Tak Ada Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk di Bandung…

@

Tak ada jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk di Kota Bandung? Belakangan pertanyaan itu melintas di benak saya. Di Jakarta misalnya, Jln Gajah Mada dan Hayam Wuruk berada di pusat kota. Sepanjang yang saya ketahui, hampir semua kota besar di negeri ini pasti mengabadikan Gajah Mada dan Hanyam Wuruk sebagai nama jalan. Tak hanya itu, dipilih untuk nama jalan di pusat kota. Mengapa di Bandung tak ada jalan bernama Gajah Mada atau Hayam Wuruk?

Apakah ini ada kaitannya dengan persoalan pada masa lalu, saat terjadi perang bubat? Saya lalu teringat Novel tulisannya Hermawan Aksan yang pernah saya baca: Pitaloka - Senja di Langit Majapahit. Apakah persoalan sejarah pada masa lalu, demikian membekas dan menjadi kesadaran kolektif? Persoalan harga diri dan masalah hegemoni kekuasaan. Majapahit dibawah pimpinan Raja Hayam Wuruk, telah menjadi kerajaan yang besar dan disegani diseluruh Nusantara. Tentu, bekat peran Patih Gajah Mada dengan sumpah Palapa-nya. Hanya ada satu negeri yang belum ditaklukan, Negeri Sunda! Negeri ini pula yang menyebabkan sumpah Palapa Gajah Mada belum terealisasi. Beberapa kali niat untuk menyerang Negeri Sunda dilakukan, tapi selalu diurungkan karena merasa ada semacam wibawa tak kasat mata yang membuatnya segan terhadap Negeri Sunda. Konon pendiri Majapahit sendiri memiliki darah sunda dari ayahnya.

Raja Hayam Wuruk sedang mencari permaisuri dan terpikat oleh kecantikan Dyah Pitaloka. Hayam Wuruk segera mengirim utusannya untuk menyatakan niatnya. AwalnyaDyah Pitaloka tak berkenan dengan cara yang dilakukan oleh Hayam Wuruk untuk mencari permaisuri, harga dirinya sebagai seorang putri negeri Sunda terasa terlecehkan, namun ia tak kuasa melawan kehendak ayahnya, Prabu Linggabuana yang menyetujui lamaran Hayam Wuruk. Untuk itu Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka diundang untuk segera berangkat menuju Majapahit guna melaksanakan pesta pernikahan. Gajah Mada mempengaruhi Hanyam Wuruk agar pernikahannya dengan Dyah Pitaloka sebagai suatu pengakuan kedaulatan negeri Sunda terhadap Majapahit. Dengan demikian Dyah Pitaloka dianggap sebagai "upeti" dari Negeri Sunda.

Hayam Wuruk yang semula akan menjemput calon Permaisuri di Tegak Bubat, tidak dilaksanakan. Saat rombongan Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka yang telah tiba di Tegal Bubat heran karena Prabu Hayam Wuruk dan rombongan yang akan menjemputnya tak kunjung tiba. Diutuskan ksatria dari Negeri Sunda diutus untuk memasuki Majapahit. Saat menemui utusan itu, Gajah Mada memerintahkan agar dan Prabu Linggabuana dan rombogannya datang sendiri ke istana Majapahit untuk menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai "upeti" dari Negeri Sunda.

Prabu Linggabuana dan seluruh rombongan tersinggung. Harga diri dan kebesaran Negerinya merasa dilecehkan. Perintah itu ditolak dan perang yang tak seimbang itu tak terhindarkan. Dyah Pitaloka yang masih menggunakan baju pengantinnya ikut berperang, demi untuk mempertahankan harga diri dan kebesaran kerajaannya.Sejarah mencatar Perang ini sebagai Perang Bubat (1357).

Apakah persoalan masa lalu itu yang menyebabkan Gajah Mada dan Hayam Wuruk tidak diabadikan sebagai nama jalan di Bandung?

19 komentar:


Lihat Komentar

uMam mengatakan...

Perang Bubat memang perang soal harga diri. Pernikahan yang pada awalnya tidak ada hubungannya dengan politik, akan tetapi kemudian diplintir dan dimanfaatkan sebagai alat untuk penguasaan pengaruh. Ini menjadi pelajaran penting buat kita semua...

Anonim mengatakan...

Wah jeli juga mengamati nama-nama jalan. Tapi saya berpendapat kejadian itu hanya masalah masa lalu. Harus diakui, kejadian-kejadian di masa lalu seringkali dijadikan sebuah pembenaran untuk memelihara sentiment-sentimen rasial, meskipun sulit ditemukan relevansinya saat ini. Salah satunya adalah Perang Bubat yang terjadi sekitar 7 abad yang lalu (tepatnya tahun 1279 M). Peristiwa yang membawa trauma yang mendalam bagi keluarga kerajaan Galuh, karena seluruh anggota keluarga kerajaan, mulai dari Prabu Linggabuana dan permaisuri Lara Linsing, serta putrinya yang cantik jelita (khas tanah Parahiyangan) Dyah Pitaloka Citraresmi, terbantai di Palagan Bubat. Peristiwa yang telah lama berlalu sebenarnya, tetapi melahirkan banyak mitos seputar hubungan Sunda dan Jawa, sampai saat ini.


Banyak pendapat yang sudah membantah bahwa peristiwa itu sudah tidak banyak memberikan dampak pada hubungan Jawa dan Sunda dewasa ini. Tetapi beberapa indikasi masih menunjukkan ketegangan hubungan ini, seperti misalnya tiadanya nama-nama yang berbau Jawa (Majapahit) yang digunakan sebagai nama jalan di tanah Parahiyangan/Pasundan (baru-baru ini ada informasi bahwa di Cimahi ada Jl. Gadjah Mada), atau adanya mitos yang melarang laki-laki/perempuan Sunda untuk menikah dengan orang Jawa. Dalam suatu seminar di Universitas Padjajaran belum lama ini, yang membahas novel Gajah Mada: Perang Bubat karangan Langit Kresna Hariadi, ketegangan yang sama kembali muncul. Ini membuktikan bahwa ketegangan itu masih belum dapat cair seutuhnya.
Jika saja mau melihat lebih jauh sejarah ke belakang, dan kemudian diteliti kembali untuk mencari persamaan-persamaan antara dua kebudayaan yang sebenarnya masih saudara tersebut, semestinya Palagan Bubat tidak menjadikan dua saudara bersitegang (untuk jangka waktu yang lama).

impresi mengatakan...

Kalaupun di Bandung tidak ada, akan tetapi di Cimahi ada jalan namanya Gajah Mada. Jadi nggak sepenuhnya tepat pendapat yang selama ini berkembang. Kayaknya soal perang bubat hanya soal masa lalu. Semoga

WS mengatakan...

Banyak kisah tentang Gajah Mada yang diangkat menjadi novel. Diantaranya,
Langit Kresna Hariadi,dengan lima jilid serial Gajah Mada sejak 2005 hingga kini. Ada pula Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit (2005) karya Hermawan Aksan dan Sasmita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit (2004) karya Tasaro.

Ini bukan hal baru. Novel bertema majapahit sempat muncul di era Pujangga Baru, lewat Sandyakalaning Majapahit (1933) karya Sanusi Pane dan Zaman Gemilang (1938) karya Matu Mona (nama pena Hasbullah Parinduri). Ini hampir bersamaan dengan terbitnya Gajah Mada (1948) yang disusun Muhammad Yamin.

Lalu RM Slamet Danusudirdjo, dengan nama pena Pandir Kelana, sempat mengisi ceruk kosong itu dengan meluncurkan Tusuk Sanggul Pudak Wangi: Kisah Lahirnya Majapahit pada 1991.

Lalu, kejayaan Majapahit seakan tenggelam. Setahu saya, Langit Kresna Hariadi yang paling menyita perhatian dengan lima seri novel Gajah Mada-nya, yang secara berurutan adalah Gajah Mada, Gajah Mada: Antara Tahta dan Angkara, Gajah Mada: Hamukti Palapa, Gajah Mada: Perang Bubat dan Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa.

Aria mengatakan...

Wah bisa aja nih ceritanya mas elliyasa. Tapi saya malah baru tau klo ternyata dibandung tidak ada nama jalan menggunakan nama gajah mada atau hayam wuruk :)

Edy mengatakan...

Wow informatif, sangat historis sekali. Pertanyaannya apakah dengan demikian masih ada demdam di kalangan orang Bandung karena persoalan masa lalu? Atau hal itu merupakan refleksi historis yang terus ditransmisikan dalam kehidupan sekarang?

BM mengatakan...

Gajahmada adalah orang besar, cita-citanya juga besar, demi ambisi seringkali melakukan politicking apa saja, termasuk perkawinan itu. Orang besar, jasanya besar dan (kadang juga) kesalahannya besar juga....

Baim mengatakan...

Nice posting. Informatif dan merangsang buat melakukan refleksi. Salam....

Titi mengatakan...

Perang bubat terjadi karena ambisi Gajah Mada untuk ikut membawa dan memaksa Sunda berada di bawah payung Majapahit. Luapan cinta Saniscara (tokoh satu ini sebaiknya Anda kenal saat membaca buku, bukan melalui blog ini). Amarah pengiring Maharaja Linggabuana dan Sunda Galuh menanggapi pesan Gajah Mada yang disampaikan Tumenggung Larang Agung. Siasat licik dan dukungan membabi-buta pendukung Gajah Mada untuk mengobarkan perang dan menggagalkan pernikahan Prabu Hayam Wuruk.

Anonim mengatakan...

Tidak adanya nama jalan GajahMada, HayamWuruk, dlsb di Bandung tidak perlu diartikan friksi rasial Jawa-Sunda.
Hal ini dapat diartikan bahwa supremasi Majapahit memberikan kesan pahit pada Sunda. Dan sesuatu yang pahit kan tidak perlu dikenang, diabadikan dalam bentuk nama jalan kan?

Dalam kaitan yang sama, mungkin menariknya juga misalnya untuk mencari adakah nama jalan Siliwangi, Linggabuwana, Galuh, DyahPitaloka, dlsb, di Jawa Tengah/Timur? Kalau tidak ada kenapa tidak ada? Kalau ada, dimanakah itu?

Tukang Nggunem mengatakan...

Yang masih bikin penasaran saya adalah, istrinya om Gajahmada itu siapa ya? yang jelas bu gajahmada....hehehehe....

Dhany Family mengatakan...

perasaan di Surabaya juga nggak ada jalan Pajajaran.. Parahiyangan gitu
Semangat primordial jadul kali

Frida mengatakan...

Gajah mada??? jadi ingat sama sumpah palapa yang menyatukan nusantara.

alris mengatakan...

Saya pikir sejarah pahit masa lalu tidak harus selalu menjadi warisan yang menuai dendam. Menurut saya dendam dipendam seperti tumor, makin besar dan membahayakan. Semoga sejarah masa lalu jadi pedoman diambil hikmahnya untuk kemajuan masa depan.

Arini mengatakan...

Met siang, mas elly pa kabar? dah lama ga ada kabarnya...sibuk ya, lom ada posting yang baru nih......
di tunggu karya 2 yg baru. smoga sukses ya......

Anonim mengatakan...
Posting ini telah dihapus oleh administrator blog.
opiniherry mengatakan...

Permisi...
Setahu saya memang tidak ada nama jalan Gajah Mada dan Majapahit tidak hanya di Bandung, tapi di seluruh wilayah Priangan.
Begitu juga sebaliknya. Tidak ada nama jalan Parahiyangan atau Siliwangi di daerah Jawa Tengah dan juga Jawa Timur.
Setahu saya (juga) hal ini memang terkait masa lalu seperti yang mas Elly katakan.
Pengaruh permusuhan sejarah ini tidak hanya dalam bentuk nama jalan tadi. Saya pernah mendengar bahwa pria sunda sebaiknya tidak menikah dengan perempuan Jawa. Alasannya karena "kalah tua". Katanya nanti si pria bisa "disetir" oleh sang istri.
Aneh...? Silahkan anda pikirkan sendiri.
(sekedar info) saya sendiri adalah peranakan jawa-sunda lho...

Roelly mengatakan...

Dari penelusuran beberapa sumber, termasuk terjemahan Kitab Negarakretagama, dapat disimpulkan bahwa ternyata PERANG BUBAT hanya sekedar FIKSI. Sumber asli (tertua) tentang cerita Perang Bubat adalah hanya sebuah Syair berbahasa Jawa Kuno abad pertengahan berjudul "KIDUNG SUNDA".

Kidung Sunda tidak diketahui siapa penulisnya dan kapan tepatnya ditulis. Ditemukan di Bali oleh pakar Belanda Prof. C.C.Berg sekitar tahun 1920an. Di dalam syair tsb ternyata tidak pula disebut siapa nama raja Sunda, permaisuri, dan putrinya. Bisa jadi nama Prabu Maharaja Linggabuana dan Dyah Pitaloka adalah baru disebut-sebut belakangan, di"pas-pasin" sebagai raja dan putri Sunda pada era pemerintahan Hayam Wuruk.

Lebih banyak hal-hal yang disebutkan dalam Kidung Sunda bertentangan dengan kenyataan dan catatan sejarah. Seperti disebut-sebut tentang senjata api (padahal orang Indonesia baru kenal mesiu sekitar dua abad setelah era Hayam Wuruk). Kemudian disebut bahwa putri raja Sunda sempat menyabetkan keris warisan leluhurnya ke tubuh Gajah Mada yang menyebabkan luka tak kunjung sembuh hingga akhirnya Patih GM meninggal karenanya (ini sangat imajinatif dari si penulis, dan ingat, keris bukan senjata pusaka kerajaan Sunda).

Jika melihat bahasa jawa kuno yang dipakai, para ahli sejarah bisa memperkirakan bahwa Kidung Sunda paling tidak ditulis pada abad ke-16 sekitar dua abad dari era Hayam Wuruk. Berbeda dengan Kitab Negarakretagama yang ditulis mpu Prapanca satu tahun setelah sepeninggal Gajah Mada.

Di dalam Kitab Negarakretagama - yang merupakan catatan akurat situasi & kondisi Majapahit masa pemerintahan Hayam Wuruk - tidak ditemukan tentang adanya peristiwa perang ini. Hanya disebut-sebut bahwa desa Bubat adalah desa pinggir pantai dengan tanah lapang luas, raja Hayam Wuruk pernah mengunjunginya untuk menyaksikan pertunjukkan seni dan hiburan. Sama sekali tidak disebut-sebut adanya tamu negara dari Pasundan apalagi rencana perkawinan hingga perang terbuka.

Perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa Perang Bubat hanya fiksi dan syair Kidung Sunda bukan catatan sejarah, hanya sekedar karya sastra jawa kuno. Boleh jadi cerita fiksi ini sengaja dipropagandakan oleh pihak penjajah (Belanda) untuk memecah-belah suku-suku di pulau Jawa.

Akankah kita tetap mempertahankan semangat sentimen kesukuan (etnosentrisme) dengan hanya berdasar cerita fiksi belaka ?

Anonim mengatakan...

Aku masih ingat ketika kul di ITB dulu (tahun 83), sebagai orang Sunda, aku mencoba untuk menjalin persaudaraan sebangsa dengan suku manapun. Namun sayang, ketika aku berdialog dengan Saudara yg. bersuku Jawa, aku menangkap aroma superiorotas dari rekan suku Jawa. Silakan ditafsirkan sendiri makna yg. terkandung pada pembicaraan di bawah ini:

- Suku Jawa lebih “Tua” dari suku Sunda
- ITB kan di Bandung, tapi kenapa ya mahasiswanya kok malah kebanyakan orang Jawa (suku Jawa; red)
- Kenapa ya orang Sunda nggak mau disebut orang Jawa?
- Kenapa ya di Jawa Barat tidak ada jalan Gajah Mada & Hayam Wuruk? (tanpa menyadari di Jawa Timur pun tdk ada jalan Siliwangi & Pajajaran)
- Adanya NKRI kan berkat jasa Gajah Mada

Silakan ditafsirkan, mengapa selalu muncul kalimat-kalimat seperti itu & sejenisnya?

Tulisan Terkait: